Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2009

Program Pendidikan Gratis Itu Menyesatkan!

Program pendidikan gratis yang tengah gencar dipromosikan pemerintah dianggap sebagai hal yang menyesatkan. Praktik kebijakan ini dianggap justru lebih banyak menimbulkan mudaratnya, ketimbang manfaat. Demikian benang merah yang mengemuka dalam diskusi terbatas bertajuk "Implementasi Pendidikan Gratis dan Mutu Pendidikan" di Jawa Barat, Rabu (12/8) di Graha Kompas-Gramedia Bandung. Diskusi diadakan oleh Fakultas Hukum Universitas Pasundan dan Pusat Penelitian Kebijakan Publik dan Kewilayahan Universitas Padjadjaran.

Menurut pengamat pendidikan Mohamad Surya, dilihat dari aspek etimologisnya saja, pendidikan gratis sangatlah kental bermakna politis. Dengan istilah ini, pendidikan itu kesannya menjadi komoditas. "Padahal, itu bukan barang dagangan, melainkan proses transformasi," tuturnya. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar PGRI ini pun melihat, implementasi program pendidikan gratis yang dijalankan satu tahun ini penuh persoalan. Bagi para pemimpin, ini menjadi komoditas yang manis, tetapi sebaliknya bagi para pelaksana di lapangan.

"Sekolah jadi kerepotan, kepala sekolah dibuat pusing, sementara operasional rutin terus berjalan. Selanjutnya, malah terjadi kucing-kucingan, pelanggaran yang seolah-olah terselubung," ucap mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jabar ini. Dalam rapat DPD beberapa waktu lalu, Surya pernah meminta agar iklan-iklan pendidikan gratis, termasuk spanduk yang ada di sekolah dicabut. Sebab, ini dianggap justru menyesatkan publik. Selain itu, dikhawatirkan hal tersebut ikut memicu penurunan mutu pendidikan.

"Yang perlu dilakukan pemerintah sebetulnya mengajak masyarakat sadar pentingnya sekolah, bahwa menyekolahkan anak itu termasuk kewajiban, jangan mengiming-imingi dengan sekolah gratis," tuturnya.

Jauh dari ideal

Ketua Dewan Pendidikan Kota Bandung Dana Setia bahkan dengan tegas mengatakan, pendidikan gratis adalah istilah kampungan. "Tidak ada itu yang namanya sekolah gratis," tuturnya. Pada kenyataannya, lanjut Dana, subsidi biaya operasional yang diberikan pemerintah baik pusat dan daerah masih jauh dari ideal. Hanya sepersepuluh dari kebutuhan ideal. "Yang perlu juga diperhatikan dari konstitusi adalah kewajiban pemerintah untuk memberikan pendidikan bermutu. Jangan lantas karena pendidikan gratis hal ini jadi diabaikan.

Pentingnya akses pendidikan dasar dan mutu adalah satu napas," tutur Jaja A Jayus, dosen Fakultas Hukum Unpas. Sementara itu, dari sisi pemerintah daerah dirasakan bahwa kebijakan pendidikan gratis sebetulnya merupakan sebuah dilema besar. "Kami yang jadi bulan-bulanan, dana sekian triliun harus bisa cukup tidak cukup untuk operasional sekolah. Padahal sebetulnya, jika ingin mutu meningkat, tidak masuk akal sekolah gratis," tutur Abur Mustikawanto dari Dinas Pendidikan Jawa Barat.

Selasa, 04 Agustus 2009

6 UIN realisasi MoU dengan ITB

Sebanyak enam Universitas Islam Negeri telah merealisasi kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pengembangan dan penguatan Fakultas Saintek dengan menggelar progress report implementasi MoU yang diteken pada Desember 2008 lalu. Keenam UIN itu yakni Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, UIN Alauddin Makassar dan UIN Sunan Gunung Jati Bandung.

Pembantu Rektor IV UIN SUnan Kalijaga Prof Siswanto Masruri yang ditemui di sela-sela workshop mengatakan, tujuan dibentuknya UIN-ITB partnership, antara lain untuk memperkuat prodi-prodi “umum” Fakultas Saintek UIN, dengan tetap mengaju pada studi-studi keislaman. Ke depan, Keenam UIN bercita-cita menjadi research university yang tak kalah dengan ITB, UGM maupun UI.

"Kami ingin memberikan sentuhan teknologi pada kajian agama Islam pada fakultas agama di UIN, sehingga bisa saling menyapa dan bekerjasama secara integratif-interkonektif antara agama dan teknologi," kata Siswanto. Ketua tim dari ITB , Prof Munawar Ahmad menyampaikan, menilai kerja sama ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat luas."Jika UIN kuat, masyarakat umum dan pondok pesantren juga akan kuat. Islam juga akan menjadi kuat dan akan sangat diperhitungkan oleh negara-negara barat," ujarnya.

Sabtu, 01 Agustus 2009

Peminat D3 Terus Meningkat

PROGRAM strata 1 (S-1) bukan satu-satunya pilihan calon mahasiswa.Nyatanya,program diploma 3 (D-3) selalu dibanjiri peminat pada setiap tahun.Ambil contoh di Universitas Trisakti. Program D-3 Jurusan Akuntansi mendapat peringkat teratas sebagai program studi yang banyak diminati calon mahasiswa, dan terus mengalami jumlah peningkatan peminat setiap tahunnya. Ada lima program studi yang dimiliki universitas yang terletak di bilangan Grogol, Jakarta Barat, ini, yaitu Akuntansi Perpajakan, Pengelolaan Fasilitas dan Perawatan Bangunan Gedung, Desain Komunikasi Visual dan Teknologi Informasi.

Diminatinya program studi Akuntansi, menurut Ketua Program D-3 Akuntansi Perpajakan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Trisakti Dra Susi Dwimulyani AkMM karena program ini adalah program D-3 pertama yang dibuka Universitas Trisakti pada tahun 1991, dan telah terbukti berhasil mencetak lulusan yang kompeten. Di samping itu, Susi menuturkan, pada dasarnya profesi akuntan, terutama untuk perpajakan, masih akan laris manis. Gejalanya bisa dilihat mulai dari sekarang, yaitu kebijakan negara menggenjot pendapatan dari pajak. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menyebut, Indonesia masih membutuhkan sekitar 18.000 tenaga perpajakan.

”Karenanya, tidak heran program yang kami tawarkan terus mendapat sambutan positif dari masyarakat,” ujar Susi. Lebih lanjut Susi mengatakan, calon mahasiswa yang mendaftar untuk program Akuntansi Perpajakan hingga saat ini jumlahnya mencapai 285 orang. Fakultas masih membuka pendaftaran untuk gelombang keempat. Sementara kuota yang tersedia tak kurang dari 175 kursi untuk tahun ajaran 2009/2010. Euforia yang sama juga terjadi di Bina Sarana Informatika (BSI).

Lembaga pendidikan yang hanya memfokuskan diri pada program diploma ini kian dibanjiri calon mahasiswa yang tertarik menuntut ilmu di sini. Lembaga yang berdiri sejak 1988 itu mempunyai enam akademi dengan 14 jurusan. Menurut Ir Naba Aji Notoseputro, Direktur BSI,dari enam akademi yang ada,Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) serta Akademi Komunikasi (AKOM) menjadi dua program D-3 yang paling diminati. ”Sejak sekitar empat tahun lalu, dua program itu yang paling diminati. Rata-rata setiap tahun ada 5.000 mahasiswa baru dari total sekitar 7.000 mahasiswa BSI.

Sebanyak kira-kira 3.000 orang di AMIK dan 2.000 orang di AKOM,” sebut Naba. Untuk AMIK,BSI membaginya menjadi tiga jurusan, yaitu Informatika, Komputer Akuntansi, dan Teknik Komputer. Sementara untuk AKOM, juga dibagi lagi menjadi tiga jurusan, yakni Public Relations, Broadcasting, dan Advertising. Naba mengungkapkan, pertumbuhan mahasiswa pada dua akademi itu relatif stabil. ”Kalau ada pergerakan naik turun,palingpaling berkisar pada angka 15%.

Tidak banyak bergeser dari besaran itu,” kata Naba yang menyelesaikan S-1 di Jurusan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Naba menilai, kedua program itu menjadi program yang paling diminati, tidak lepas dari perkembangan zaman.

Menurut dia,zaman modern sekarang, teknologi yang berbasis teknologi informasi (TI) menjadi dasar semua bidang.Tak ayal, teknologi informasi terus mengalami perkembangan untuk memenuhi kebutuhan zaman. ”Dari semua teknologi, teknologi informasi ini terus berkembang. Perkembangan inilah yang membuat bidang ini banyak sekali peminatnya. Selain itu, makin banyak bidang yang mendasarkan operasinya pada teknologi ini.Jadi, pasarnya memang besar,” sebutnya.

Demikian pula dengan AKOM. Tingginya peminat di akademi ini tak lepas dari berkembangnya pasar untuk bidang komunikasi. ”Bidang ini adalah industri kreatif.Industri ini juga terus berkembang, makanya kebutuhan akan tenagatenaga ahli akan terus ada,” tuturnya. Naba berpendapat, dalam dunia pendidikan, hukum ekonomi berlaku.Bidang-bidang yang membutuhkan banyak ahli akan berdampak pada menjamurnya program pendidikan yang berkaitan dengan bidang yang sedang membutuhkan banyak ahli itu. Demikian pula sebaliknya, program itu akan menyusut jika permintaan terhadap ahli pun menurun. Variasi program studi yang ditawarkan perguruan tinggi swasta ini, tentunya didukung kualitas yang menunjang. Seperti Program Akuntansi Perpajakan Universitas Trisakti.

Tidak seperti program studi yang ada di universitas lain, bidang ilmu yang ditawarkan di sini tidak hanya terbatas pada ilmu perpajakan semata.Namun, dipadukan dengan Ilmu Akuntansi. ”Sehingga nantinya lulusan mempunyai lapangan pekerjaan yang lebih spesifik,” ujar Susi. Dengan demikian, dalam satu program mahasiswa mendapatkan dua ilmu sekaligus.

Apalagi yang menawarkan program ini jumlahnya masih sedikit di universitas negeri maupun swasta. Demi menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan, program ini juga menjalin kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Jajaran staf pengajar kebanyakan diisi pegawai DJP yang merupakan praktisi ilmu perpajakan. Dan seluruh dosen tetap di jurusan ini telah bergelar S-2 ataupun S-3. Sementara di BSI untuk menjaga kualitas lulusannya, direktur BSI Ir Naba Aji Notoseputro menerangkan, beberapa hal sudah dilakukan. Pertama adalah dengan merekrut dosen yang bagus,terutama berlatar belakang praktisi. Hal ini sejalan dengan core penyelenggaraan pendidikan di D-3 yang mengarah pada kegiatan aplikasi ilmu. Menurut Naba, pengajar yang merupakan praktisi adalah ujung tombak bagi penyelenggaraan pendidikan di D-3.

Hal ini berpengaruh pada kemampuan skills yang nantinya harus dimiliki mahasiswa. Sebab, untuk membimbing sebuah praktikum dengan baik, harus dilakukan orang yang memang punya kemampuan secara riil di lapangan atas bidang yang ditangani. Praktikum akan berjalan kurang baik, terutama dari segi transfer pengetahuan, jika dibimbing seseorang yang hanya punya kemampuan secara teoritis. Untuk meminimalisasi hal itu, BSI menempuh beberapa cara.

BSI sering meminta umpan balik dari dunia industri atau kerja.Umpan balik itu bisa berasal dari perusahaan di mana para mahasiswa magang, atau dari para praktisi yang jadi dosen tamu. Umpan balik dari perusahaan ini sering kali dipakai sebagai acuan untuk modifikasi materi kuliah yang diberikan atau modifikasi praktikum agar lulusan tidak punya jarak yang cukup jauh dengan standar yang diminta oleh dunia kerja. ”Ukuran yang dipakai itu seharusnya keterampilan apa yang sedang dibutuhkan dunia kerja.

Itulah yang kita berikan kepada mahasiswa D-3. Jadi, apa yang diberikan tidak mengada-ada,tetapi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,”tutur Naba. Selain itu, ada model umpan balik dari mahasiswa tentang kinerja dosen. Baik dalam penguasaan materi atau cara mengejar.

Pengumuman Hasil SNMPTN 2009

Secara serentak hasil test tertulis Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) se Indonesia akan diumumkan Sabtu (1/8). SKH Kedaulatan Rakyat tetap berpartisipasi ikut mengumumkan hasil test tertulis SNMPTN tersebut, seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu mengumumkan nama-nama mereka yang diterima di Lokal Yogyakarta (UGM, UNY dan UIN Sunan kalijaga), Surakarta (UNS), Semarang (Undip dan Unnes) serta Purwokerto (Unsoed).

Ketua panitia SNMPTN Lokal Yogyakarta Dr. Ir. Budi Prasetyo Widyobroto Msc. Kamis (30/7) saat dikonfirmasi di kampus UGM, lokasi Yogyakarta masuk SNMPTN Wilayah Jaeng-DIY bersama 7 perguruan tinggi lainnya, yaitu UNS, Unnes, Unsoed, Undip, UGM, UNY, UIN Sunan Kalijaga.

Daya Tampung untuk jateng dan DIY (7 Perguruan tinggi) sekitar 10.847. Rinciannya jateng sekitar 7.377 dan DIY sekitar 3.470 kursi. Daya tampung untuk DIY terdiri UGM 740, UNY 1.907 dan UIN Sunan Kalijaga 823 Kursi. Untuk wilayah jateng terdiri UNS sekitar 2.385, Unes 2.050, Unsoed 1.511 dan Undip 1.431 kursi.

Khusus UGM untuk SNMPTN Lokasi Yogyakarta daya tampung mengalami kenaikan sekitar seratus persen lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 360 kursi,” ujar Budi Prasetyo sambil menambahkan untuk jadwal registrasi bagi yang diterima lewat SNMPTN bisa dibaca pada pengantar pengumuman hasil tes SNMPTN tahun ini.

Sedang Ketua panitia SNMPTN, Prof Haris Supratno yang juga rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kepada wartawan di Jakarta Kamis (30/7) menjelaskan jumlah peserta SNMPTN tahun ini meningkat sekitar 9% dibdaning tahun lalu yakni 422.534 orang. Mereka memperebutkan 100.235 bangku dari berbagai program studi pada 53 PTN di seluruh Indonesia.

melihat jumlah peminatnya tersebut, persaingan yang terjadi cukup ketat. terutama untuk jurusan favorit seperti Kedokteran, teknik, ekonomi akuntasi,” ujar Haris.
Meski begitu, lanjut Prof Haris, namun dalam proses seleksi SNMPTN tahun ini menyisakan banyak bangku kosong yang tak terisi. Berdasarkan data daya tampung yang tak terpenuhi mencapai 7.724 (7,7%). Daya tampung yang tak terisi ini menyebar di 42 PTN, terutama PTN yang berada di Indonesia bagian timur.

Unsri Terima 3.039 Mahasiswa Baru

Palembang - Universitas Sriwijaya (Unsri) mengumumkan 3039 mahasiswa barunya, yang duduk di 10 fakultas. Mereka ini mahasiswa baru melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sebetulnya mahasiswa yang diterima sebanyak 2.998 mahasiswa, tapi ditambah 41 orang, menjadi 3.039 mahasiswa. Mereka yang mengikuti tes sebanyak 17.532 peserta.

Penambahan dadakan untuk mengantisipasi kekurangan bangku karena mahasiswa batal meregistrasi. Rektor Universitas Sriwijaya, Prof Dr Badia Perizade, Jumat (31/07/2009) di gedung KPA Unsri Bukitbesar, Palembang, mengatakan, keputusan itu diambil berdasarkan kesepakatan panitia dan sudah dilaporkan ke pusat. "Ini terbilang dadakan, yang pasti penambahan kursi untuk menyiagakan bangku kosong bagi mahasiswa yang tidak melakukan registrasi atau daftar ulang," kata Badia.