Rabu, 25 November 2009

Voyeurism, Penuhi Hasrat Seks dengan Ngintip Orang Bermesraan

Jakarta, Apa yang Anda lakukan ketika tidak sengaja melihat orang lain berciuman, beradegan seks atau bahkan tidak berpakaian? Jika Anda meneruskan melihat pemandangan itu, mungkin Anda termasuk orang 'Voyeurism'. Survei menyebutkan, 83 persen pria dan 74 persen wanita tergolong Voyeurism. Voyeurism termasuk dalam psychosexual disorder atau perilaku seks menyimpang, yaitu senang mengintip orang lain yang sedang tidak berpakaian atau mengintip perilaku seksual orang lain sehingga hasrat seksnya terpenuhi.

Menurut American Psychiatric Association, seseorang dikatakan sebagai voyeurism jika setidaknya selama 6 bulan melakukan aktivitas mengintip orang lain beradegan seks atau telanjang dan sudah mengganggu kepentingan serta privasi orang lain. Terkadang orang yang punya sikap Voyeurism menggunakan berbagai cara untuk bisa melihat adegan seks, seperti menaruh cermin atau kamera di tempat tersembunyi. Ada juga yang memasang tape perekam agar bisa mendengarkan percakapan orang yang sedang bercinta.

Perilaku seks voyeurism bisa masuk dalam 3 kategori, yaitu patologis (penyakit), kriminal dan kesenangan seksual semata. Tapi voyeurism lebih banyak dianggap sebagai perilaku seks yang menyimpang, sehingga sangat jarang orang yang kepergok melakukan tindakan itu lalu ditahan.

Sebuah studi yang dimuat dalam Interdisciplinary Journal dilakukan untuk mengetahui kebiasaan perilaku seks voyeurism seseorang. Beberapa grup pria yang tinggal di apartemen dipantau kebiasaannya melalui teleskop yang dipasang secara sembunyi-sembunyi. Hasilnya, pria-pria itu diam-diam sering melihat adegan seks orang lain. Studi lainnya yang dilakukan oleh peneliti University of Chicago melaporkan, partisipan berumur 18 hingga 44 tahun mengaku senang melihat pasangannya tidak berpakaian. Para partisipan tidak menolak jika disuguhkan pemandangan tersebut secara gratis, apalagi jika tidak ketahuan orang lain.

Sementara itu, dalam International Journal of Sexual Health disebutkan bahwa dari 318 partisipan yang mengikuti studi, sebanyak 83 persen pria dan 74 persen wanita mengaku ingin melihat pemandangan seksual, hanya jika tidak ketahuan oleh orang lain. Sebuah teori mengatakan bahwa melihat pemandangan seksual adalah salah satu faktor yang bisa menentukan kecocokan pasangan dan reproduksi seseorang. Peneliti mengatakan, setiap orang sebenarnya memiliki keinginan melihat pemandangan seksual tanpa ketahuan orang lain.

"Jadi normal-normal saja jika seseorang punya sikap seperti demikian, karena itu sudah naluri alamiah manusia. Hanya yang membedakan seorang vouyerism dan yang tidak adalah apakah naluri itu dijalankan berlebihan atau tidak," jelas Dr Yvonne K Fulbright, seorang pakar seks dari Sexuality Source Inc. seperti diktup dari Foxnews, Selasa (24/11/2009). Penanganan untuk orang Voyeurism bisa dilakukan dengan terapi sikap atau behavioral therapy. Namun biasanya seorang Voyeurism akan sangat sulit menjalani terapi ini jika tidak dipaksakan. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan perilaku seks menyimpang ini, modal utamanya hanya kesadaran si pelaku saja untuk sembuh dan tidak mengintip lagi.

Sumber : detikHealth

Tidak ada komentar: